Semakin banyak perhatian dicurahkan ke komponen yang satu ini. Baterai adalah komponen penting dari setiap peralatan elektronik. Dari berbagai jenis yang ada lazim digunakan saat ini, NiMh, Li-Ion adalah jenis yang paling banyak digunakan oleh berbagai produk elektronik, termasuk notebook, kamera digital dan berbagai gadget lainnya. Di beberapa tahun belakangan ini, Li-Ion menjadi pilihan utama, karena pilihan material ini memungkinkan baterai lebih kecil, discharge lebih kecil, daya tahan baterai lebih lama, kapasitas daya lebih besar dan berat lebih ringan.

Walaupun begitu, Li-Ion bukanlah baterai yang “sempurna”. Recall besar-besaran yang dilakukan beberapa produsen baterai dan notebook beberapa tahun lalu, menunjukkan bahwa material ini mempunyai karakteristik yang cukup “meledak”. Selain itu, biaya produksi dan quality control (sehingga masalah serupa tidak terjadi lagi) membuat baterai Li-Ion tidak layak digunakan di kendaraan hybrid - paling tidak menurut Toyota. Hanya perusahaan mobil/motor listrik tertentu yang menggunakan baterai Li-Ion - mereka pun mengakui bahwa biaya (dan berat) baterai Li-Ion mencakup sebagian besar biaya produksi. Biaya baterai untuk Tesla Roadster diperkirakan sekitar US 60.000, atau setengah dari harga mobil tersebut.

Oleh karena itu, peneliti di seluruh dunia berusaha mencari alternatif untuk menggantikan Li-Ion. Perusahaan-perusahaan baru seperti A123 Systems bergantung pada lithium iron phospate, sementara Revolt berhasil menemukan cara membuat baterai rechargable dari zinc air (note:udara, bukan air). Bahkan perusahaan baterai besar seperti Energizer seharusnya sudah menawarkan seri baterai zinc air mereka tahun depan (sampel sudah tersedia tahun ini). Kedua produk ini menawarkan daya jauh lebih tinggi daripada Li-Ion (3 hingga 4 kali daya Li-Ion, dengan berat dan volume sama/setara). Perbedaan utama antara keduanya adalah jumlah kemampuan isi ulang dan harga. Baterai zinc air menawarkan jumlah charge cycle lebih rendah dari Li-Ion, namun biaya produksinya hanya setengah Li-Ion. Sebaliknya, biaya produksi baterai lithium iron phosphate diperkirakan lebih murah daripada Li-Ion.

Setelah kedua alternatif ini, kombinasi yang diincar adalah lithium metal-air. Lithium metal-air mampu menawarkan kapasitas lebih tinggi daripada lithium iron dan zinc-air, namun pada saat yang sama, beratnya lebih ringan daripada zinc-air. PolyPlus telah berhasil membuat prototype desain electrode untuk lithium metal-air sehingga baterai yang digunakan dapat digunakan bahkan di dalam air dan air laut.

Di luar ketiga teknologi ini, ada satu teknologi yang perlu diperhatikan - ultracapacitors. EEStor mengklaim mereka telah berhasi menemukan desain ceramic ultracapacitor
menggunakan bubuk barium-titanate yang secara sangat signifikan meningkatkan kapasitas ultracapacitor. Ultracapacitor tradisional hanya dapat menyimpan 1/25 kapasitas daya baterai Li-Ion, walau mempunyai reaksi lebih cepat - memungkinkan pengisian ulang jauh lebih singkat. menurut EEStor, produk mereka dapat menawarkan kapasitas daya 2 kali Li-Ion. Bila baterai Li-Ion, lithium iron phosphate dan zinc-air masih memerlukan waktu pengisian ulang dalam hitungan jam, ultracapacitor EEStor dapat diisi dalam hitungan menit.

Sumber: http://www.chip.co.id/green/?p=437

4 comments:

Darma Saputra said...

Tukeran link yuk... link kamu sudah ada di blog aku, cek di www.darma-saputra.co.cc, terimakasih

March Toding said...

Postingan menarik
Jangan bosan berbagi info lewat blog, karena berbagi itu indah.
VOTE blog ”BIMBINGANMU” pada Djarum Black Blog Competition Vol.2

ketek said...

mudah2an gak gampang jebol deh batere di masadepan...
hahhaha.. batre laptopku masa sekarang dari 100% dipake 10 menit udah abis lagi... kacoo...
gara2 ak charge terus sih...

vYc0d said...

@ketek
ganti sama accu mobil aja om.hahaha